Kisah Suami Istri yang Mengharukan

Kisah Inspirasi Suami Istri yang Mengharukan
Source img:pixabay.com/olessya

Seorang suami yang sedang ingin menggauli istrinya, namun istrinya ternyata telah...

Pria ini berpikir bisa selalu memeluk wanita yang telah dia nikahi, dan pernah memberikan kebahagian dalam hidupnya.

Dia pun pernah berjanji untuk selalu membuat istrinya bahagia di sepanjang hidupnya.

Seiring berjalannya waktu, pria bernama Chang yang dulu hanya seorang buruh, kini telah menjadi kepala bagian, kemudian mendirikan perusahaan konstruksi sendiri.

Sekarang perusahaan yang dia dirikan semakin besar dan terkenal, godaan yang terus datang terhadap dirinya pun semakin banyak.

Malam itu, dia sengaja membalikkan badan istrinya, hanya sekedar ingin berhubungan suami istri. Namun dia menyadari, istri yang dulu cantik, halus, dan sexy kini semakin menua, tubuh yang langsing kini sudah berisi, kulitnya pun tidak halus lagi.

Jika dibandingkan dengan sejumlah wanita cantik di sekitarnya, dia hanyalah seorang wanita desa yang kusam, keberadaan istri di dekatnya mengingatkan pada masa lalu yang sederhana.

Dia berpikir, pernikahan ini sudah mencapai titik akhirnya. Kemudian, dia mengirimkan uang sebesar satu juta yuan ke rekening milik istrinya, bertujuan agar istrinya dapat membeli rumah yang nyaman di pusat kota.

Dia bukanlah pria yang tak berperasaan, tidak mengatur kehidupan istri di hari selanjutnya, dia hanya sedang merasa kurang tenang. Akhirnya dia pun meminta kepada istrinya untuk bercerai.

Istrinya duduk di hadapannya, dengan tenang mendengar alasan tentang perceraian tersebut, mata istrinya pun terlihat tenang, tanpa terlihat sedikitpun kegelisahan.

Namun mereka telah menikah selama 20 tahun, hidup bersama, dan dia tahu betul semua tentang istrinya. Dia tau bahwa tatapan tenang dari istrinya, sebenarnya menyimpan rasa perih yang teramat dalam di lubuk hatinya.

Tiba-tiba dia menyadari bahwa dia adalah suami yang sangat kejam.

Hari yang ditentukan untuk berpisah dengan istrinya pun telah tiba.

Hari itu ada sesuatu yang terjadi pada perusahaannya, ia menyuruh istrinya agar menunggu di rumah sebentar. Saat siang hari, ia akan kembali untuk membantu istrinya pindahan. Pindah ke rumah baru yang telah dibelinya itu, dan 20 tahun pernikahan mereka, hidup bersama, telah berakhir sampai disini.

Sepanjang pagi, hatinya sangat gelisah, memikirkan banyak hal yang baru saja ia lakukan.

Begitu siang tiba, ia segera mungkin untuk kembali ke rumah. Namun rumah yang Ia datangi sudah sepi, istrinya telah pergi.

Di atas meja ia mendapati kunci rumah yang Ia belikan untuk istrinya, buku tabungan yang berisi satu juta yuan, dan sepucuk surat yang ditulis oleh istrinya untuk dia.

Ini adalah surat yang ditulis istrinya untuk dia:

“Aku sudah pergi, kembali ke rumah orangtua di kampung ku.
Semua selimut sudah aku cuci dan juga sudah dijemur. Aku menaruhnya di rak sebelah kiri. Saat musim dingin tiba, jangan lupa untuk mengeluarkannya.
Semua sepatu kulit juga sudah ku semir. Jika robek, kamu bisa pergi ke toko sol sepatu yang dekat rumah.
Kemeja aku letakkan di lemari bagian atas, kaos kaki dan juga tali pinggang di laci bawah.
Saat beli beras, ingat, beli merek Jin Xiang. Pergilah ke supermarket, semua merek di sana asli, tidak akan ada merek yang palsu.
Xiao Sun, setiap minggu akan datang untuk bersih-bersih rumah, jangan lupa berikan dia gaji setiap akhir bulan.
Oh ya, kalau ada baju yang sudah tidak dipakai, berikan saja pada Xiao Sun, dia akan mengirimkannya ke kampung. Keluarga mereka akan sangat senang menerimanya.
Setelah aku pergi, jangan lupa utnuk minum obat, lambungmu kurang sehat. Aku sudah menyuruh orang untuk membelikanmu obat lambung dari Hong Kong, seharusnya cukup untuk setengah tahun.
Kamu selalu lupa membawa kunci saat hendak keluar rumah, aku sudah menitipkannya pada resepsionis. Kalau kamu lupa lagi, ambilah di sana.
Saat pagi hari, jangan lupa mentutup jendela sebelum kamu keluar rumah, air hujan yang masuk akan membahasi lantai.
Aku juga sudah membuatkan pangsit untuk mu, saat pulang, masaklah itu.”

Setiap huruf yang telah ditulis istrinya sangat tidak rapi. Namun setiap katanya, bagaikan pedang yang menusuk ke dada secara bertubi-bertubi.

Dia perlahan menuju dapur, kemudian memasak pangsit yang telah disiapkan.

Tiba-tiba dia berpikir akan 20 tahun yang lalu, dia berdiri di antara tumpukan tiang dan menjadi buruh semen.

Dekat dari tumpukan tiang tersebut dia mendengar suara teriakan dari seseorang yang memanggil namanya sambil membawakan pangsit, mengingatkannya akan suara yang membawakan kebahagiaan itu, mengingatkannya pula akan rasa puas setelah memakan pangsit itu. Seakan ia baru saja melewati sebuah pesta, mengingatkannya akan masa dimana ia mengucapkan sumpah, “aku akan membuat wanita ku bahagia.”

Dia berbalik untuk menuruni tangga, dan segera masuk ke mobil.

setengah jam kemudian, ia sampai di stasiun kereta dan melihat istrinya hendak masuk ke dalam kereta yang menuju kampungnya.

Dengan nada yang tinggi lantas ia berkata, “Kamu mau kemana?! Aku begitu lelah kerja setengah hari ini, dan tidak ada nasi di rumah, istri macam apa kamu? Keterlaluan, cepat ikut aku pulang!”

Dia terlihat sangat galak dan kasar (kompensasi dari penyesakannya)

Istrinya pun dengan mata yang basah, lantas mengikutinya dari belakang, melangkahkan kaki dan ikut pulang ke rumah.

Perlahan-lahan, air mata istrinya menjadi bunga yang mekar.

Istrinya tidak tahu bahwa suaminya yang berjalan di depannya juga sedang menangis.

Saat di perjalanan dari rumah menuju stasiun kereta, ia sangat ketakutan, takut ketika tidak bisa menemui istrinya lagi, takut kehilangan istrinya.

Dia memarahi diri sendiri atas kejadian ini, begitu bodoh, hendak mengusir istri sendiri, ternyata kehilangan istrinya, sepertihalnya kehilangan tulang rusuk, begitu sakit. Pengalaman ini, membuat hubungan mereka semakin erat setiap harinya.


Sayangilah istri Anda, kehilangan seorang istri yang baik hatinya sama saja seperti ketika kehilangan tulang rusuk. Isteri yang baik akan menemani engkau hingga engkau sukses dan kaya raya. Namun setelah engkau kaya raya, janganlah engkau berpaling dari mereka dan menggangap mereka tidak lagi berguna.
“Kesetiaan seorang wanita diuji ketika sang pria tidak mempunyai apa-apa, dan kesetian seorang pria diuji ketika ia telah mempunyai segalanya"



source: https://web.facebook.com/zulmen72

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel